Bab 8 Pencegahan luka baring/dekubitus

Luka baring/dekubitus, yang juga dikenal sebagai "luka tekan", adalah kondisi yang terjadi ketika seseorang berbaring dalam posisi yang sama untuk waktu yang lama. Hal ini menyebabkan aliran darah ke jaringan di suatu bagian tubuh terputus, sehingga mengakibatkan kekurangan nutrisi serta kerusakan kulit dan otot.

Luka baring umum terjadi pada lansia yang terbaring di tempat tidur, dan konon 1 dari 5-10 orang mengalami luka baring/dekubitus.

Begitu luka baring/dekubitus terbentuk, tidak hanya sulit disembuhkan tetapi juga sangat menyakitkan.

Selain itu, jika berlanjut, bahkan dapat mengancam jiwa.

Penting bagi perawat lansia untuk memiliki pemahaman yang kuat tentang pengetahuan dasar seperti penyebab luka baring/dekubitus, kondisi lansia yang rentan terkena luka baring, bagian tubuh yang sering terkena, dan gejala luka baring/dekubitus dalam memberikan perawatan sehari-hari.

Perawat lansia dapat mencegah luka baring/dekubitus dengan menerapkan berbagai teknik perawatan rutin secara komprehensif dan melakukan tindakan pencegahan secara cermat.


Seksi 1 Apa Itu Luka Baring/dekubitus

Luka baring/dekubitus adalah nekrosis jaringan yang terjadi akibat kondisi iskemia yang berkepanjangan, yaitu terputusnya pasokan oksigen dan nutrisi ke jaringan di antara tulang (kulit (epidermis dan dermis), jaringan lemak subkutan, dan otot). Kondisi ini disebabkan oleh tekanan (beban berat badan) yang terus-menerus pada salah satu bagian tubuh.

Ketika tekanan yang diberikan melebihi tekanan kapiler kulit (sekitar 30 mmHg), aliran darah ke kulit akan terhenti dan menyebabkan kondisi iskemia.

Luka baring/dekubitus tidak terjadi pada area mana pun yang mengalami tekanan saat tidur.

Ini terbatas pada area di mana tulang menonjol (Gambar 1) (Gambar 1).

Namun, kita biasanya membalikkan badan saat tidur untuk menghindari tekanan terus-menerus.

Lansia yang mengalami luka baring/dekubitus tidak mampu mengubah posisi tubuhnya sendiri, bukan hanya saat tidur.

Selain itu, jika kondisi umum tubuh buruk, misalnya akibat kekurangan nutrisi, tubuh menjadi lebih rentan mengalami nekrosis lokal akibat iskemia (Gambar 2) (Gambar 2).


Seksi 2 Gejala dan Perkembangan Luka Baring/dekubitus

Luka baring/dekubitus berkembang sebagai berikut:

Prosesnya dapat dibagi menjadi 4 tahap (Gambar 3) (Gambar 3).


① Tahap 1

Terlihat kemerahan pada kulit, yang merupakan kondisi awal terjadinya luka baring/dekubitus.

Pada tahap ini, epidermis masih utuh sepenuhnya.


② Tahap 2

Kerusakan telah meluas hingga ke dermis.

Lepuh, erosi, dan tukak terbentuk, serta terdapat banyak sekret.

Kadang-kadang mengeluh sakit.


③ Tahap 3

Kerusakan telah meluas hingga ke lapisan lemak subkutan.

Gejala peradangan menjadi kronis dan keluar banyak eksudat (kadang-kadang bernanah).

Hal ini menyebabkan nekrosis pada jaringan dan membuatnya lebih rentan terhadap infeksi.


④ Tahap 4

Kerusakan telah mencapai otot dan tulang.

Luka menjadi sangat dalam dan mengeluarkan eksudat kotor dalam jumlah banyak.

Karena rentan terhadap infeksi dan jaringan saraf rusak, pasien mengeluhkan sakit yang hebat.


Seksi 3 Bagian Tubuh yang Rentan Terkena Luka Baring/dekubitus

Lokasi umum terjadinya luka baring/dekubitus adalah bagian tubuh tempat tulang menonjol.

Saat berbaring telentang, lokasi yang rentan antara lain bagian belakang kepala, tulang belikat, sakrum, tumit, siku, dsb. Sementara itu, saat posisi berbaring miring, lokasinya meliputi daun telinga, bahu, trokanter mayor, area tempat lutut saling bergesekan, pergelangan kaki, dsb.

Terutama, bagian pinggang hingga bokong yang menopang berat badan merupakan area yang berisiko mengalami luka baring/dekubitus (Gambar 4) (Gambar 4).


Seksi 4 Faktor-Faktor Penyebab dan Memburuknya Luka Baring/dekubitus

Berikut ini akan dijelaskan faktor-faktor yang menyebabkan dan memperburuk luka baring/dekubitus.

Pada umumnya, faktor-faktor ini tidak muncul secara tunggal, tetapi terjadi karena beberapa faktor yang tumpang tindih.


① Tekanan

Dikatakan bahwa saat dalam posisi telentang, beban berat badan yang ditopang adalah 7% di kepala, 33% di punggung, 44% di bokong, dan 16% di kaki.

Bagian yang paling tertekan adalah tonjolan tulang.

Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, jika tekanan seperti ini berlanjut dalam waktu lama, kulit di bagian tersebut akan mengalami gangguan sirkulasi yang menjadi penyebab timbulnya luka baring/dekubitus.

Lemak subkutan dan otot pada tonjolan tulang berfungsi sebagai bantalan peredam tekanan. Oleh karena itu, tingkat tekanan yang terjadi akan berbeda-beda tergantung pada kondisi jaringan subkutan orang tersebut, meskipun diberi tekanan yang sama.

Orang kurus cenderung kurang memperoleh manfaat dari efek bantalan lemak subkutan, sehingga mereka lebih rentan terhadap efek tekanan.

Selain itu, lansia dengan gangguan sensorik atau motorik cenderung mempertahankan posisi tubuh yang sama karena tidak merasakan ketidaknyamanan akibat tekanan, atau tidak melakukan gerakan yang sulit. Akibatnya, mereka mengalami tekanan dalam waktu lama.


② Pergeseran

Saat bagian kepala tempat tidur dinaikkan, tubuh cenderung akan merosot ke bawah.

Kondisi tertariknya jaringan lunak inilah yang disebut "pergeseran".

Bagian tubuh yang rentan mengalami pergeseran adalah tumit, trokanter mayor, dan sakrum. Jika menggunakan kursi roda, bagian yang rentan adalah tulang duduk (iskium).

Pada bagian tubuh yang mengalami pergeseran, luka baring/dekubitus dapat timbul hanya dengan setengah tekanan dibandingkan pada bagian yang tidak mengalami pergeseran.

Saat sandaran punggung tempat tidur dinaikkan, akan timbul gesekan dan pergeseran pada area sakrum.

Sebaiknya hindari menaikkan sandaran punggung tempat tidur secara terus-menerus pada siang hari.


③ Gesekan

Luka baring/dekubitus tidak akan timbul hanya karena gesekan pada kulit.

Namun, saat terjadi pergeseran, timbul gaya gesek yang kuat pada epidermis di antara seprai, pakaian dalam, dsb.

Gaya gesek ini dapat menyebabkan pengelupasan epidermis sehingga memperburuk luka baring/dekubitus.


④ Infiltrasi

Kulit yang dalam kondisi basah dikatakan 5 kali lebih rentan mengalami kerusakan (pengelupasan epidermis) dibandingkan dengan kulit yang kering.

Membiarkan lansia terbaring dalam keadaan berkeringat atau tetap memakai popok basah dapat menjadi penyebab luka baring/dekubitus.


⑤ Gangguan Nutrisi

Timbulnya luka baring/dekubitus juga sangat berkaitan dengan kondisi seluruh tubuh.

Meskipun terbaring di tempat tidur, orang yang makan dengan baik cenderung tidak mudah mengalami luka baring/dekubitus. Kalaupun mengalaminya, luka tersebut sering kali sembuh dengan cepat.

Namun, luka baring/dekubitus lebih mudah terjadi saat kondisi gizi buruk atau saat tubuh mengalami kelemahan secara umum.

Luka baring/dekubitus juga lebih mudah terjadi pada penderita penyakit jantung atau ginjal yang mengalami edema, atau pada penderita diabetes.

Perlu juga berhati-hati jika ada kelumpuhan separuh badan atau gangguan kesadaran.


⑥ Perubahan Akibat Pertambahan Usia

Seiring bertambahnya usia, lemak subkutan dan massa otot berkurang.

Selain itu, elastisitas kulit dan sintesis kolagen juga menurun, yang membuat lansia lebih rentan terhadap cedera akibat tekanan.


Seksi 5 Kondisi yang Meningkatkan Kemungkinan Luka Baring/dekubitus

Untuk meringkas faktor-faktor pemicu timbulnya luka baring/dekubitus yang disebutkan di atas, lansia dalam situasi berikut lebih rentan mengalami luka baring/dekubitus dan memerlukan tindakan pencegahan yang terencana.

(1) Mempertahankan posisi tubuh yang sama dalam waktu lama.

(2) Mengalami kelumpuhan.

(3) Sering terjadi kontaminasi akibat berkeringat, inkontinensia, dsb.

(4) Tidak bisa mandi.

(5) Mengalami edema.

(6) Kondisi gizi buruk.

(7) Sangat kurus atau obesitas.

(8) Mengalami gangguan sensorimotor.

(9) Imunitas tubuh melemah akibat diabetes, dsb.


Seksi 6 Pencegahan luka baring/dekubitus

Luka baring/dekubitus sulit disembuhkan apabila sudah terbentuk. Oleh karena itu, hal yang terpenting adalah berupaya untuk mencegahnya.

Metodenya adalah dengan menghilangkan atau mengurangi faktor-faktor penyebab luka baring/dekubitus.


① Pelepasan dan Pengurangan Tekanan

Poin terpenting dalam pencegahan luka baring/dekubitus adalah menghindari tekanan pada area yang sama dalam waktu lama.

Hal ini karena luka baring terbentuk akibat tekanan; jika tidak ada tekanan, maka luka baring/dekubitus tidak akan terbentuk.

Panduan untuk pelepasan tekanan adalah mengontrol tekanan pada tubuh (tekanan tubuh) agar berada di bawah tekanan kapiler (sekitar 30 mmHg).

Hal ini karena tekanan di bawah tekanan kapiler tidak akan menyebabkan gangguan sirkulasi darah, sehingga tidak akan terjadi.luka baring/dekubitus.

Mengubah posisi tubuh untuk melepaskan tekanan memang efektif, tetapi karena kondisi tubuh setiap lansia berbeda-beda akibat faktor usia, kondisi gizi, dsb., sulit untuk mengatakan bahwa mengubah posisi tubuh setiap 2 jam efektif untuk semua orang.

Posisi tengkurap dianggap sebagai metode terbaik untuk mengubah posisi tubuh.

Namun, karena tidak mungkin untuk terus berada dalam posisi tengkurap, disarankan untuk menerapkan "posisi berbaring miring 30 derajat".

Hal ini karena pada posisi berbaring miring 30 derajat, berat badan dapat ditopang oleh otot gluteal (otot bokong), bukan oleh tonjolan tulang (Gambar 5) (Gambar 5).

Saat duduk di kursi roda, gunakan bantal, dsb. untuk menyesuaikan posisi tubuh sehingga pinggul, lutut, dan pergelangan kaki berada pada sudut 90 derajat (aturan 90 derajat) (Gambar 6) (Gambar 6).

Secara tradisional, orang duduk di kursi roda dengan bertumpu pada tulang ekor dan tuberositas iskia.

Dengan mengubah metode tersebut, meluruskan punggung, dan memperbaiki posisi duduk dengan tumpuan pada paha, lutut, dan sendi pergelangan kaki, berat badan dapat dipindahkan dari bokong ke bagian belakang paha (Gambar 7) (Gambar 7).

Artinya, berat badan akan ditopang pada area yang tidak memiliki tulang.

Bagi lansia yang terbaring di tempat tidur, salah satu metodenya adalah menggunakan kasur udara, dsb. untuk mendistribusikan dan mengurangi tekanan tubuh.

Penggunaan kasur udara memerlukan pengaturan volume udara yang tepat, dan banyak digunakan jenis kasur yang tekanannya dapat berganti-ganti.


② Kebersihan Kulit

Melaksanakan mandi atau mandi shower secara aktif bagi lansia yang berisiko mengalami luka baring/dekubitus sangatlah bermanfaat, karena dapat menjaga kebersihan kulit sekaligus memberikan stimulasi dari pergerakan tubuh.

Berendam di bak mandi, sebagai salah satu manfaat dari mandi itu sendiri, dapat memperlancar sirkulasi darah dan meningkatkan metabolisme, sehingga dapat mencegah luka baring/dekubitus.

Selain itu, karena seluruh tubuh tidak berbusana, pengamatan terhadap kondisi kulit juga dapat dilakukan.

Jika tidak memungkinkan untuk mandi, efek yang sama juga dapat diperoleh dengan menyeka tubuh (baik seluruh tubuh maupun sebagian).

Saat menggunakan sabun, bilas hingga bersih agar tidak ada sisa sabun yang tertinggal di kulit.

Selain itu, penting untuk tidak menggunakan sabun secara berlebihan dan tidak menggosok terlalu keras.

Tujuannya adalah untuk tidak mengangkat lapisan tanduk (stratum korneum) secara berlebihan agar tidak merusak fungsi pelindung kulit.

Perlu diketahui bahwa, untuk informasi tentang perawatan kulit pada kasus inkontinensia, silakan lihat halaman 97-98.


③ Mencegah Kelembapan Kulit

Membiarkan kulit dalam keadaan lembap, misalnya saat berkeringat, akan meningkatkan risiko kerusakan kulit (pengelupasan epidermis) akibat pergeseran, sehingga perlu dilakukan penanganan.

Kelembapan dan kekotoran juga dapat menyebabkan luka baring/dekubitus. Oleh karena itu, selalu cuci pakaian tidur dan perlengkapan tidur, lalu gunakan yang bersih dan kering.

Mengganti pakaian tidur secara berkala.

Bagi lansia yang banyak berkeringat, salah satu caranya adalah menggunakan pakaian berbahan kulit domba yang memiliki fungsi menyerap kelembapan.

Seprai antiair dapat digunakan untuk lansia yang mengalami inkontinensia, tetapi hindari bahan dengan sirkulasi udara dan daya serap kelembapan yang buruk.

Jika terjadi edema, kerutan pada pakaian tidur atau seprai pun dapat menyebabkan luka baring/dekubitus.

Penting untuk merapikan tempat tidur setiap hari dan menjaga lingkungan tetap bersih sehingga tidak ada sisa makanan, dsb. yang berserakan.

Jemur perlengkapan tidur di bawah sinar matahari pada hari yang cerah hingga kering.


④ Pencegahan Pergeseran

Saat mengatur gatch-up pada tempat tidur, perhatikan hal-hal berikut dengan saksama.

Pertama, untuk mencegah tubuh merosot karena sandaran dinaikkan, naikkan pula bagian tungkai bawah hingga lutut tertekuk (Gambar 8) (Gambar 8).

Setelah itu, naikkan sandaran punggung (head-up).

Untuk tempat tidur yang tidak dapat melakukan gatch-up pada bagian tungkai bawah, letakkan bantal atau alas duduk di bawah lutut untuk menekuknya, baru kemudian lakukan gatch-up pada sandaran punggung.

Penting untuk memastikan sudut "gatch-up" tidak melebihi 30 derajat.

Jika 30 derajat atau lebih, tekanan pada sakrum akan meningkat.

Selain itu, gravitasi dapat menyebabkan punggung dan bokong mulai meluncur ke bawah, sehingga lebih rentan terhadap pergeseran dan gesekan.

Jika sudah ada luka baring/dekubitus di area sakrum, penting untuk sebisa mungkin tidak menaikkan bagian kepala tempat tidur. Namun, jika diperlukan, sebaiknya posisikan pasien berbaring miring terlebih dahulu, baru kemudian naikkan bagian kepala tempat tidur.

Meskipun bagian kepala tempat tidur dinaikkan dan diturunkan dengan sangat hati-hati, pergeseran tetap dapat terjadi.

Pergeseran yang sudah terjadi dapat dihilangkan dengan teknik "pelepasan tekanan punggung" (Gambar 9) (Gambar 9).

Selain itu, saat menurunkan sandaran kepala tempat tidur hingga posisinya datar, biarkan tubuh dalam posisi berbaring miring sejenak untuk menghilangkan kontak antara punggung dan tempat tidur.

Bagi orang yang dapat menggerakkan tubuhnya sendiri, dorong mereka untuk sesekali menggerak-gerakkan atau mengubah posisi tubuhnya.


⑤ Meningkatkan kondisi gizi

Kondisi gizi yang baik dapat membantu mencegah dan juga mengobati luka baring/dekubitus.

Tiga zat gizi utama, yaitu karbohidrat, protein, dan lemak, perlu dikonsumsi secara seimbang.

Khususnya, penting untuk mengonsumsi protein berkualitas tinggi dalam jumlah yang cukup.

Selain itu, penting juga untuk mengonsumsi banyak vitamin (sayur-sayuran dan buah-buahan) untuk meningkatkan metabolisme.

Usahakan untuk mengonsumsi cairan setidaknya 1.000 ml per hari.

Luka baring/dekubitus dapat dicegah apabila perawat lansia melakukan tindakan pencegahan secara saksama dalam perawatan sehari-hari.

Setiap ada kesempatan, seperti saat menyeka tubuh, mengganti pakaian, dsb. amati apakah ada kemerahan pada kulit.

Jika ditemukan kemerahan, lakukan perubahan posisi tubuh dan manfaatkan alat-alat pencegahan secara aktif.

Jika area kemerahan meluas, muncul lepuh, atau kulit robek, perlu segera berkonsultasi dengan dokter atau perawat.